Infrastruktur Indonesia harus mendapat
perhatian dari dalam negeri maupun luar negeri
Infrastruktur sudah lama menjadi persoalan di
Indonesia karena masalah pendanaan yang sangat terbatas, dimana partisipasi
swasta yang diharapkan pemerintah belum memenuhi harapan.
"Tapi sebenarnya pendanaan
jangka panjang untuk proyek infrastruktur, seperti sudah terjadi di berbagai
negara, bisa diambil dari sektor asuransi dan pensiun."
Stuart Gulliver
Saat menjelaskan tentang target proyek infrastruktur
tahun lalu, pemerintah Indonesia mengatakan butuh Rp1.500 triliun hingga tahun
2014, untuk membangun berbagai sarana guna menjawab kebutuhan pertumbuhan
ekonomi, sekaligus mendorong potensi pertumbuhan baru.
Diantara proyek yang diprioritaskan adalah pembukaan
jalur jalan dan tol baru di Jawa dan Sumatra, pembangunan pembangkit listrik
baru terutama di Sumatra, Sulawesi dan Kalimantan, serta sejumlah proyek
pelabuhan dan bandar udara.
Hanya sepertiga dari kebutuhan itu yang bisa
disediakan pemerintah sementara Rp1.000 triliun harus disedikan oleh sektor
swasta atau dari investor asing.
"Dalam paparannya Menteri keuangan Indonesia
(Agus Matowardojo) mengatakan bahwa kebutuhan keuangan itu hanya sebagian bisa
didapat dari pemerintah," kata Stuart Gulliver pemimpin pada kelompok
bisnis HSBC, perusahaan perbankan dunia asal Inggris.
"Tapi sebenarnya pendanaan jangka panjang untuk
proyek infrastruktur, seperti sudah terjadi di berbagai negara, bisa diambil
dari sektor asuransi dan pensiun," lanjutnya.
Masalahnya sekarang menurut Gulliver, adalah bagiamana
menghidupkan sektor pensiun dan asuransi sehingga bisa didapat sumber utang
dengan masa tenggat 20-30 tahun, yang cocok untuk skema pembiayaan
infrastruktur.
Dari berbagai ajang seperti Infrastructure Summit (KTT
infrastruktur) yang digelar pemerintah, proyek sudah ditawarkan pada sejumlah
pihak di Taiwan, Timur Tengah dan AS, namun berbagai persoalan terkait
pendanaan belum teratasi.
Bukan terparah
"Semua negara punya persoalan
tersendiri soal ini, Brasil, India, dan seterusnya. Saya tidak akan menyebut
Indonesia sebagai yang paling parah."
Paul Polman
Persoalan infrastruktur juga dialami India, tutur
Prashant Ruia, CEO Essar Grup India -perusahaan yang banyak berkecimpung dalam
bidang baja, energi dan operasi pelabuhan.
"Asia sekarang butuh kira-kira US$110 triliun
untuk membangun infrastruktur," kata Ruia.
Dalam kasus India, menurut Ruia, problem pendanaan
sebagian besar juga diambil alih oleh sektor swasta.
"Jelas bahwa Indonesia sekarang sedang menghadapi
hambatan (dalam infrastruktur). Yang dibutuhkan adalah kebijakan yang akan
menarik investasi ke sektor ini," tambahnya.
Menurut survey yang dibuat oleh lembaga konsultasi
PriceWaterhouseCooper dari responden yang terdiri dari dari para pimpinan
perusahaan di Asia, persoalan infrastruktur menjadi persoalan kedua yang paling
meresahkan mereka, setelah masalah gejolak ekonomi.
Infrastruktur terutama dianggap sebagai momok bagi
pengusaha di kawasan ASEAN dan Australia.
Meski demikian, menurut Paul Polman, situasi Indonesia
bukanlah yang terburuk dibanding persoalan infrastruktur di negara-negara lain.
"Semua negara punya persoalan tersendiri soal
ini, Brasil, India, dan seterusnya. Saya tidak akan menyebut Indonesia sebagai
yang paling parah," kata Polman.
"Bahkan Anda mestinya tidak perlu kecil hati,
kinerja Anda malah lebih bagus dibanding banyak negara lain," tambahnya.
Indonesia adalah negara dengan tingkat pertumbuhan
tertinggi ketiga dari negara anggota G-20, setelah Cina, dan India.
tugas ISD tentang "TULISAN BEBAS ATAU PENGALAMAN PRIBADI YANG BERHUBUNGAN DENGAN ISD"
BalasHapus